Opini
adalah klaim konklusif terhadap suatu hal. Singkatnya, opini itu
interchangeably dengan konklusi. Argumen berarti satu set premis
(proposisi-proposisi sebagai alasan) yang menunjang atau yang mendasari sebuah
klaim. Berdasarkan definisi di atas, opini seharusnya mengandung argumen.
Mengapa harus? Harus karena opini dimaksudkan untuk mendapatkan penerimaan dari
pihak lain. Dan penerimaan itu baru dapat dikatakan penerimaan yang berdasar,
jika dilakukan atas dasar argumen-argumen yang valid dan sound. Atas dasar
uraian di atas, saya memikirkan beberapa implikasi praktis.
Pertama, Anda tidak
dapat sekadar berlindung di balik kalimat, "Ini kan cuman opini."
Betul sekali itu opini, tetapi justru karena opini maka harus ada argumen
sebagai penunjangnya. Lain hal kalau Anda menulis reportase! Kedua, Anda tidak
dapat appeal to relativism dengan menyatakan, "Namanya juga opini jadi
beda gak apa-apa." Betul bahwa perbedaan pendapat itu tidak apa-apa,
tetapi poinnya bukan di situ. Sejauh itu adalah sebuah opini dan bahwa sebuah
opini harus ditopang oleh argumen, maka dua opini yang berbeda harus bisa
diperlihatkan sama-sama kuatnya di mana. Bahkan jika dua opini bertentangan,
maka keduanya bisa sama-sama salah, tetapi tidak bisa sama-sama benar. Hukum
non kontradiksi mengharuskan implikasi ini.
Dan kedua, Anda tidak dapat appeal
to subjectivism dengan menyatakan, "Opini itu subjektif, jadi gak perlu
argumen". Ini pun adalah opini, namun opini yang salah karena bertentangan
dengan definisi-definisi di atas. Betul bahwa ada ranah subjektif, tetapi jika
opini itu dimaksudkan untuk mempengaruhi pandangan publik atau untuk
mendapatkan persetujuan, maka subjektivitas bukanlah kawan yang solid demi
maksud tersebut. Tidak benar bahwa opini itu boleh semata-mata subjektif.
Pertanyaan terakhir, bagaimana dengan opini yang subjektif tetapi mendapatkan
persetujuan atau penerimaan dari pihak lain bahkan bisa jadi banyak yang
setuju? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, mereka yang setuju itu memiliki
opini subjektif yang sama. Ini semisal saya menyatakan bahwa saya suka
milkshake coklat lalu Anda mengiyakannya karena Anda pun memiliki selera yang
sama. Kedua, yang paling sering terjadi adalah baik yang mengemukakan opini
tanpa argumen objektif maupun yang mengiyakan opini tersebut sama-sama tidak
memahami keharusan-keharusan dalam hal beropini maupun dalam hal memberi
persetujuan.
Dan ketiga, biasanya juga yang setuju itu hanya ikut arus. Tidak
tau mengapa setuju yang penting setuju karena rame-rame sudah setuju. Silakan
pikirkan dan tambahkan sendiri. Tangan saya sudah pegal. Lagi pula bentar lagi
saya tiba di tujuan.
Secara sekilas,
argumentasi dan opini bermakna sama. Ke-idem-an keduanya adalah sama-sama
menyatakan sebuah pendapat. Namun bagi saya, kedua hal tersebut berbeda, bahkan
adakalanya menjadi sangat berbeda.
Sebelum masuk lebih jauh, saya mencoba membuat beberapa
kalimat terlebih dahulu untuk membedakan keduanya.
Menurut Saya, hari
ini akan turun hujan.
Melihat cuaca yang
semakin mendung, Saya kira hujan akan turun sebentar lagi.
Kalimat pertama, menurut saya adalah sebuah opini. Sebuah
opini adalah pendapat yang dikemukakan oleh seseorang. Terserah saja hal apa
yang ingin disampaikan tersebut, bisa saja mengenai hal apapun dan kabar
tersebut bisa benar atau salah. Dalam beberapa keadaan mungkin, bisa disamakan
dengan prediksi. - Saya tidak mempunyai dasar kuat untuk menyatakan hari ini
akan hujan, itu hanya semata-mata ‘kata’ saya. Sah-sah saja saya mengeluarkan
opini seperti demikian.
Kalimat kedua, menurut saya adalah sebuah kalimat kecil
yang mengandung argumentasi. Kenapa? Karena dalam pendapat yang dikemukakan itu
telah mengandung fakta yang memperkuat statement. Faktanya adalah keadaan cuaca
yang semakin mendung. Walaupun adakalanya hujan tidak jadi turun, namun ‘opini’
kita bahwa hujan akan turun itu berdasarkan fakta yang konkrit. Dalam bahasa
lain yang dimaksudkan argumentasi disini adalah opini berdasarkan fakta.